Press "Enter" to skip to content

Tinjauan Kinerja Pembangunan Ekonomi Kabupaten Solok Tahun 2016-2020

Oleh : Indra Gusnady
(Bagian 1).

Pendahuluan

Salah satu indikator perkembangan perekonomian suatu daerah adalah Perhitungan Produk Domestik Regional (PDRB) yang dikeluarkan oleh BPS. PDRB merupakan salah satu perangkat data ekonomi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja pembangunan ekonomi suatu wilayah/daerah, kita bisa melihat Volume Nilai Tambah Produksi Daerah, struktur ekonomi daerah, laju pertumbuhan baik secara agregat maupun berdasarkan lapangan usaha, PDRB Perkapita dan sebagainya.

Tulisan ini dibagi dalam (Dua) bagian. Pertama, menjelaskan angka-angka statistik PDRB Kabupaten Solok Tahun 2016- 2020. Kedua, memberikan pembahasan dan analisa terhadap perekonomian daerah dan upaya yang perlu dilakukan kedepan untuk meningkatkan perekonomian Kabupaten Solok Di tahun-tahun selanjutnya
———

Pembangunan ekonomi

Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan distribusi pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional.

Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik, disertai dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Salah satu ‘tools’ untuk mengevaluasi Kinerja Pembangunan Ekonomi adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yg dikeluarkan oleh BPS setiap tahunnya.

Struktur Ekonomi

Besarnya peranan berbagai lapangan usaha ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa sangat menentukan struktur ekonomi suatu daerah. Struktur ekonomi menggambarkan seberapa besar ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi dari setiap kategori lapangan usaha.

Selama lima tahun terakhir (2016-2020) struktur perekonomian Kabupaten Solok, didominasi oleh 5 (lima) kategori lapangan usaha. yaitu :
1. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan;
2. Transportasi dan Pergudangan;
3. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor;
4. Konstruksi;
5. Informasi dan komunikasi

Peranan terbesar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Solok pada tahun 2020 (Atas dasar harga berlaku) dihasilkan oleh lapangan usaha :
1. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 34,76 persen (angka ini sedikit menurun dibanding tahun 2019 yang kontribusinya 34,81 persen).
2. lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 11,02 persen (mengalami penurunan dari 12,17 persen di tahun 2019 ),
3. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, yaitu mencapai 10,90 persen (angka ini sedikit menurun, dari 11,01 persen di tahun 2019).
4. Konstruksi sebesar 9,68 persen (angka ini mengalami penurunan dari 9,59 persen di tahun 2019).
5. Informasi dan Komunikasi sebesar 6,90 persen (angka ini mengalami peningkatan dari 6,41 persen di tahun 2019).

Dari gambaran 5 lapangan usaha pemberi Kontribusi terbesar terhadap Total PDRB Kabupaten Solok, Diurutan pertama dan kedua sangat berkaitan Sektor Pertanian. Sehingga ini semakin menjelaskan bahwa ‘Economic Base’ Kabupaten Solok adalah Sektor Pertanian dan lapangan usaha ikutannya

Diantara kelima lapangan usaha tersebut diatas, 4 diantaranya mengalami penurunan kontribusi saat pandemi covid-19 dan hanya lapangan lapangan usaha informasi dan komunikasi yang sedikit mengalami kenaikan.

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2020

Pertumbuhan ekonomi merupakan
salah satu indikator makro untuk melihat kinerja perekonomian secara riil di suatu wilayah. Laju pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan perubahan PDRB
atas dasar harga konstan tahun yang
bersangkutan terhadap tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai pertambahan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua lapangan
usaha kegiatan ekonomi yang ada di suatu wilayah selama kurun waktu setahun.

Pada tahun 2020, Total PDRB Kabupaten Solok (atas dasar harga konstan) sebesar 9,79 triliun rupiah lebih rendah daripada tahun 2019 yang sebesar 9,90 triliun rupiah, atau mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar -1,12 persen. Untuk pertamakalinya dalam sepuluh tahun terakhir ini, mengalami pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi (minus). Sedikit, lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Barat yang terkontraksi 1,6 persen ditahun yang sama.

Kontraksi PDRB ini disinyalir sebagai dampak pandemi CoVID-19 yang dimulai semenjak bulan Maret Tahun 2020, semenjak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Dari 17 (tujuhbelas) lapangan usaha yang ada, 11 (sebelas) mengalami pertumbuhan negatif Pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi
paling dalam adalah Lapangan Usaha Transportasi & Pergudangan (-11,61) persen) ; jasa lainnya (-11,66 persen). Dua Lapangan usaha ini,mengalami kontraksi pertumbuhan diatas 2 Digit. Selanjutnya, lapangan Usaha penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (-9,87 persen) dan pengada listrik (-6,01 persen). 7 (tujuh) lapangan usaha lainnya terkontraksi dibawah 5 persen.

Lapangan Usaha Transportasi & Pergudangan mengalami kontraksi (minus) sebesar 12,04 persen sedangkan pada Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi & Makan Minum mengalami kontraksi (minus) sebesar11,12 persen. Sedangkan lapangan usaha lain yang cukup tinggi adalah Jasa Lainnya yaitu sebesar -10,26 persen. Sementara 8 (delapan) lapangan usaha lainnya terkontraksi dibawah 10 persen disebabkan menurunnya aktivitas ekonomi pada masa Pendemi CoVID-19 ini.

Diantara yang 11 yang mengalami
kontraksi, tetap ada 6(enam) lapangan usaha yang masih mengalami
pertumbuhan positif. 2 (dua) Lapangan Usaha diantaranya, mengalami pertumbuhan tertinggi tapi tetap lebih rendah dari Tahun 2019, yaitu;
– Lapangan Usaha Informasi dan
Komuniksi. Lapangan kerja ini mengalami
pertumbuhan sekitar 7,86 persen pada
tahun 2020, lebih rendah dari tahun 2019 yang sebesar 9,95 persen.
– Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial juga mengalami pertumbuhan sekitar 7,22
persen pada tahun 2020, lebih rendah daripada tahun 2019 yang sebesar 8,61 persen.

Menarik untuk disimak, pada PDRB Propinsi dan beberapa Kabupaten/Kota lainya, 2 lapangan usaha tersebut diatas, justru mengalami pertumbuhan lebih tinggi daripada Tahun 2019. Argumen yang mendasarinya, antara lain:

1). Pertumbuhan lapangan usaha Infornasi dan komunikasi mengalami peningkatan dimasa pandemi dipicu karena kebijakan PSBB atau yang sejenisnya. Masyarakat diharuskan untuk bekerja, kuliah dan sekolah melalui daring yang tentu saja membutuhkan ‘Quota’internet.

2) Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial senestinya mengalami pertumbuhan yang lebih tinggidaripada tahun 2019 yang sebesar 7,54 persen. Hal ini disebabkankarena kebijakan dan pengeluaran permerintah ,fokus pada penanganan pandemi Covid-19 terutama di bidang kesehatan dan bantuan sosial ke masyarakat.

Lapangan Usaha yang masih bertumbuh pada tahun 2020 selanjutnya adalah Jasa Pendidikan yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,50 persen. Lebih rendah dibanding tahun 2019 yang sebesar 9,94 persen, dan 3 (tiga) Lapangan usaha lainnya yang mengalami pertumbuhan dibawah 1 persen

Pendapatan Perkapita

Salah satu indikator tingkat kemakmuran suatu penduduk di suatu daerah dapat dilihat dari PDRB per kapita, yang merupakan hasil bagi antara nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan jumlah penduduk. Meskipun angka ini bersifat agregat, angka PDRB per kapita ini bisa dijadikan pendekatan untuk mengukur tingkat pendapatan rata-rata penduduk perkepala disuatu daerah.

Besaran PDRB Per-kapita (atas dasar harga berlaku) Kabupaten Solok Tahun 2020 sebesar 35,96 juta Rupiah, lebih rendah dari PDRB Perkapita-Propinsi yang sebesar 44,03 juta pada tahun yang sama. Terjadi penurunan, dibandingkan PDRB perkapita Kabupaten Solok tahun 2019 yang sebesar 36,36 juta Rupiah.
————-**
(bersambung)

Sumber Data: PDRB Kabupaten Solok Menurut Lapangan Usaha 2016-2020, BPS, 2021.

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.