Press "Enter" to skip to content

Tenaga Kesehatan Covid-19 : Pahlawan yang Terlupakan


Oleh : Ahmad Rifai SP
Pegiat literasi covid-19 dan Ketua RT VI Silaing Bawah Padang Panjang

Sungguh rasa empati dan simpati begitu mengalir deras kepada pasien covid-19 dan keluarga yang sedang menjalani karantina.

Tetapi rasa itu tidak pula berlaku sama kepada tenaga medis yang sedang merawat para pasien covid-19 siang malam dan yang menjalani isolasi di berbagai tempat, seperti di RSUD, Mifan, BLK dan lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

Mereka layak mendapatkan hal yang sama. Mengukur betapa layaknya, mari kita ukur betapa besarnya pengorbanan petugas medis yang tidak kita sadari tersebut.

Sebutlah seorang perawat wanita (,tenaga kesehatan berinisial YM) yang bertugas di RSUD Padang Panjang untuk mendampingi pasien covid-19 harus mengungsikan putera -puterinya ke kampung halaman.

Bukan tanpa alasan,itu semua demi keamanan dan keselamatan putra putrinya manakala dia sendiri pulang ke rumah,mana tahu tanpa sadar menjadi orang tanpa gejala yang resikonya bisa menular kepada mereka.

Diambil langkah terberat,putra putrinya di kirim ke kampung.Ini tidaklah ringan berpisah dengan orang-orang tercinta.

Dia paham,tugas yang diamanahkan adalah, tugas berat yang disandangnya, menyelamatkan nyawa manusia dengan resiko nyawanya juga bisa terancam karena sudah puluhan petugas medis merenggut nyawa ulah virus yang mematikan yang pindah dari pasien yang ditanganinya sendiri.

Mengorbankan rasa rindu dan kasih sayang dengan berpisah dengan keluarga bukanlah perkara mudah.

Banyak tekanan bathin yang dialami, pikiran tersita antara memberi perhatian kepada keluarga dan kepada pasien.Anak perlu kasih sayang,pasien perlu penanganan dan pelayanan sesuai standar perawatan.

Memang itu adalah tugas tenaga medis,tapi dengan kondisi terkini,balasan kebaikan untuk pengorbanan mereka belum sepadan dan belum setimpal dengan apa yang telah dikorbankan.

Apakah pernah petugas medis tersebut mendapatkan kiriman paket makanan dari tetangganya atau dari warga yang peduli, walau mereka sendiri tidak mengharapkan belas kasihan.

Bahkan lebih sadis, pengorbanan berbalas dengan pengusiran oleh warga seperti di Jakarta diawal covid-19 mulai mewabah tempo hari.

Beberapa petugas medis bahkan diusir dari rumah kontrakannya.Suatu sikap berlebihan dan tidak pantas.Mereka sejatinya adalah pahlawan kita,mereka adalah manusia yang layak diperlakukan sama.

Namun.sayangnya kita tidak pernah menyelami lebih dalam perasan bathin mereka Sebagai manusia tentu sedih bila melihat bantuan dan simpati berlimpah kepada pasien covid-19 dan keluarganya,ternyata mereka sendiri tidak mendapat hak serupa.Miris.

Padahal tugas mereka ini sama dengan keberadaan seorang prajurit di garis depan yang menentukan kemenangan sebuah pertempuran.

Dapatkah kita bayangkan,jika prajurit tidak dilengkapi dengan perbekalan makanan dan gizi seimbang,mereka tidak akan mungkin memenangkan pertempuran?

Tapi dengan alasan kemanusiaan,dan keikhlasan,mereka pendam kepedihan itu,padahal mereka adalah manusia yang layak mendapatkan perlakuan yang sama.Dihargai dan diberikan hak yang sama.

Soal rasa kemanusiaan yang tidak seimbang lainnya adalah; Apakah kita pernah tahu,kalau setiap pasien yang sembuh dari covid-19,para tenaga medisnya mendapatkan standing aplause dan ruang penghargaan pula?

Kadang sesama mereka saja merayakan,dan senyap dari perhatian publik.Tidak ada ucapan selamat kepada mereka.Jarang dan bahkan bisa tidak sama sekali,padahal yang mereka selamatkan itu adalah nyawa seseorang dan masa depan pasien tersebut.

Kadang,ketika pasien covid 19 yang dirawat menghembuskan nafas terakhir, kesedihan melanda pun mereka.Mereka telah maksimal,tapi takdir dari yang maha kuasa berkehendak lain.

Kesedihan itu kian tumpah manakala pasien itu adalah teman sejawat sendiri yang sama-sama tenaga kesehatan yang terpapar covid-19 dari pasien mereka.

Terbayang lah keluarga teman sejawat yang wafat tadi memiliki anak yang masih kecil-kecil yang ditinggal kan.

Dapat dibayangkan besarnya pengorbanan seorang petugas medis,yang notabene nya seperti ibu YM ,yang memiliki putra putri masih kecil yang harus Beliau kirimkan ke kampungnya.

Rasa rindu tidak terperi,saat berbuka dan sahur,yang seharusnya bersama putra putri tercinta disatu meja makan yang sama,kini dia harus berbuka dan sahur bersama rekan kerja dan bersama pasien di ruangan rumah sakit yang sama.

Apabila pasien covid-19 sembuh atas izin Allah melalui kerja keras petugas medis dan doa keluarga dan doa kita bersama, apakah otomatis selama petugas medis berintegrasi dengan pasien covid-19 yang sembuh,akan aman terbebas dari virus covid-19 tersebut.

Belum tentu.Bahkan pasien sembuh,justeru perawatnya yang masuk UGD lantaran tertular covid-19. Kembali ke soal vitamin atau gizi yang kurang.

Bahkan minimnya gizi sembako petugas medis yang bertugas ini, ibu YM sengaja memosting di FBnya agar,ada pasokan gizi untuk menambah stamina mereka agar mereka juga sehat dan imunitasnya juga kuat.

Mereka selain tekanan jiwa, juga dilanda kelelahan dan keletihan,untuk itu harus diimbangi dengan pasukan gizi yang berlebih. Mungkin lebih lelah daripada kita yang pernah menemani saudara yang sakit di rumah sakit.

Tidur tidak nyenyak,makan tidak berselera,dan pikiran kusut dan harap2 cemas serta begadang sepanjang malam.Boleh jadi tenaga kesehatan itu lebih terporsir tenaga dan pikirannya dari kita.Ditambah nyawa taruhannya.

Kalau ibu YM itu memosting persediaan sembakonya untuk selama menjalankan tugas sebagai perawat pasien covid-19 bukan tanpa maksud.

Jelas sekali maksudnya bahwa berilah ruang yang lebih pantas untuk mereka dan juga untuk keluarga mereka yang mungkin terabaikan.

Bukannya beliau tidak pandai bersyukur dan berterima kasih,tetapi,mereka juga harus mendapatkan perhatian utama,dan bukankah nyawa mereka bisa terancam juga jika imunitas mereka lemah dan gizi mereka kurang?

Terlebih nyawa taruhannya karena mereka selalu berinteraksi dengan pasien yang positif covid-19 tersebut?

Kalau ingin menyelamatkan pasien covid-19,maka selamatkan juga petugas medis tersebut dengan memperbanyak makanan minuman bergizi dan perhatian untuk mereka dan keluarganya termasuk bonus gaji sebagai kompensasi atas pengorbanan mereka.

Berharap ada donatur yang bisa memberikan bantuan dan penghargaan langsung kepada mereka.

Doa kami untuk tenaga kesehatan dimana pun berada yang sekarang berada di garda terdepan melawan covid-19.Semoga semua sehat dan selamat dari keganasan covid-19 tersebut.

Mewakili publik dan netizen,kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua tenaga medis yg berjuang dan berjibaku di Medan perjuangan melawan covid-19 khususnya di Padang panjang dan umumnya Indonesia.

Salam hormat kami yang mendoakan dari jauh. Selamatkan mereka ya Allah dari marabahaya covid-19

Comments are closed.

Mission News Theme by Compete Themes.