Press "Enter" to skip to content

Si Muntu Dimana Dia Kini

Ampera Salim Patimarajo

Mungkin banyak urang awak, kelahiran tahun 60-an yang masih ingat keberadaan si Muntu. Saya semasa kecil membayangkan si Muntu sebagai makhluk ajaib. Seluruh tubuhnya dibungkus kerisik pisang. Wajahnya bertopeng kelopak bambu. Diarak ramai-ramai menuju sebuah pasar tradisional.

Itulah yang terjadi di kampung saya suatu ketika dahulu di tahun 1973. Masa itu hiburan masyarakat memang kurang. Televisi tidak ada. Tapy Recorder masih langka. Radio hanya satu dua. Itu pun hanya mengalun dalam bilik-bilik rumah. Hanya dengan kehadiran si Muntulah, kami anak-anak merasa terhibur.

Pada suatu ketika, hari itu Minggu, merupakan hari pekan di Nagari Padang Magek, Tanah Datar, 8 km arah barat Batusangkar. Tidak begitu ramai pekan Ahad– kami menyebutnya Balai Akad. Hanya sekedar menandakan bahwa hari itu hari pasar. Pagi hari beberapa penggalas sudah berdatangan dari daerah sekitar untuk menggelar dagangan. Penduduk kampung juga ikut berjualan, tetapi sudah agak kesiangan.

Dulu itu hampir setiap hari ada hari pekan untuk masyarakat sekitar kampung kami. Senen ramai pasar Simabur, Selasa di Rambatan, Rabu di Galo Gandang, Kamis di Batusangkar, Jumat di Turawan, Sabtu di Belimbing dan Minggu di Padang Magek. Kini Balai Akad Padang Magek dan Pakan Rabaa Galo Gandang tidak ada lagi.

Saya masih ingat waktu itu pagi-pagi anak-anak sudah diributkan oleh kehadiran si Muntu di hari Minggu. Bersama beberapa kawan, kami mengintip si Muntu dari balik celah tadir sebuah warung pinggir jalan, yang dilalui si Muntu. Tengah hari itu, menjelang sore, dua orang si Muntu diarak bersama-sama dari Kapalo Korong menuju Balai Akad yang berjarak lebih kurang 500 m.

Dari kejauhan dengan perasaan setangah geli, kami melihat si Muntu berjalan melenggok-lenggok dengan sebuah tangguk terpegang di tangan. Dengan tangguk itulah si Muntu minta sedekah kepada orang-orang yang dijumpai sepanjang jalan hingga ke pasar.

Tangguk yang tadinya kosong, begitu pulang dari pasar menjadi penuh oleh berbagai pemberian. Ada yang memberi uang, ada juga barang seperti bawang, cabe, lobak, sabun, penjahit dan benang serta lain sebagainya. Tergantung kepada apa yang dapat diberikan kepada si Muntu.

Semula, saya tak tahu bagaimana penggunaan isi tangguk si Muntu. Belakangan informasi saya terima, bahwa barang-brang pemberian pedagang tadi, dijual kembali kepada masyarakat dengan harga miring. Lalu dananya dipergunakan untuk berbagai keperluan anak nagari.

Si Muntu bagi kita di Minangkabau, sama seperti Barongsai oleh etnis China. Kehadairannya membawa misi hiburan. Melihat si Muntu, yang datang melenggok-lenggok penuh lucu, orang jadi terhibur. Ketika hati warga sedang bahagia, saku-saku pun jadi longgar. Saat itulah si Muntu berperan. Dia khusus dibuat untuk mencari sumbangan. Setelah bantuan mengalir, maka apa yang direncanakan akan bisa terlaksana.

Dari mana si Muntu berasal?

Seorang kerabat bercerita. Suatu ketika dahulu di masa Minangkabau diperintah Raja Pagaruyung, anak nagari hidup dalam kemakmuran. Setiap nagari bebas membuat berbagai acara, asal tidak bertentangan dengan adat yang dipegang teguh, dijunjung tinggi dan dipakai diamalkan dalam kehidupan.

Biasanya setiap kegiatan anak nagari disponsori oleh ninik mamak pemangku adat, orang yang ber-alam leba berpadang lapang. Mereka terkenal sebagai orang kaya yang memiliki sawah ladang sejauh mata memandang. Rumah gadang mereka masing-masing punya tiga rangkaiang. Salah satu dari fungsi rangkiang itu untuk mengisi adat dalam nagari.

Ketika ada anak nagari ingin mengadakan suatu kegiatan olah raga atau kesenian, maka sebut sajalah anggarannya kepada ninik mamak. Insya Allah semua niat terkabul. Sebab, para ninik mamak masa itu, berdaging tebal. Mereka suka diminta. Dan merasa bahagia pula ketika memberi. Berbeda dengan kebanyakan ninik mamak di kampung-kampung masa kini, yang mengalami kehidupan nyaris miskin. Sebab, harta pusaka sudah berpindah tangan.

Bagi kalangan pemuda, pada masa dulu itu, tertanam pula rasa keperibadian yang tinggi. Mereka juga merasa enggan meminta kalau bukan kepada mamaknya sendiri. Perasaan pemuda ini merupakan rembesan dari kondisi kemakmuran masyarakat nagari. Pemuda merasa bermartabat tinggi, tidak mau meminta sumbangan secara berterus terang kepada orang lain. Takut harga dirinya remeh.

Syahdan, suatu ketika acara kesenian memerlukan biaya yang cukup besar. Sumbangan ninik mamak saja tidak mencukupi. Mau diminta kepada masyarakat nagari, tidak ada yang mau menjalankan les. Ketika itulah ide untuk membuat si Muntu ditemukan.

Si Muntu diarak keliling kampung. Dia tidak bersuara. Dia tidak pula meminta. Tetapi di kedua tangannya terpegang tangguk kosong. Bila merasa senang dengan kehadiran si Muntu yang bisa melenggang lenggok di jalan sambil diiringi telempong, maka berilah sesuatu ke dalam tangguk yang dia pegang.

Rupanya kehadiran si Muntu dapat menggugah hati masyarakat. Jarang rumah yang didatangi tidak memberikan sumbangan. Sehingga modal acara kesenian jadi berlebih. Sejak itu pula, sudah jamak di nagari-nagari mempergunakan si Muntu sebagai pencari dana.

Kondisi ini juga didukung oleh tradisi Minangkabau yang mewariskan bahasa lisan dan kiasan. Sehingganya keberadan si Muntu masa lalu dapat diibaratkan sebagai bentuk proposal sebuah kegiatan.

Berbagai cerita menyebutkan, masa dahulu kalangan pemuda membuat acara olah raga dan kesenian, punya aturan dan jadwal tertentu. Tidak berkepanjangan. Sehingga dengan lapang dada pula warga dapat memberikan sumbangan seperlunya, sebagaimana yang dibutuhkan.

Kini zaman sudah berubah. Si Muntau tidak ada lagi. Hiburan sudah banyak. Tinggal pilih dan putar canel di televisi. Siaran apa saja yang diinginkan tersedia. Masyarakat pun sudah semakin tidak hirau dengan acara korong dan kampung. Dia akan datang rapat-rapat nagari hanya bila ada waktu luang.

Kalangan pemuda pun, kini maunya serba instan. Jika dibuat pula acara si Muntu untuk mendapatkan tambahan dana malam hiburan, terasa lama dan membosankan. Daripada repot-repot enak duduk saja di depan kotak kaca, di situ ada wayang, ada kartun, dan ada lawak yang lucu-lucu.

Kalangan anak-anak pun banyak pula mendapat hiburan produk luar dari televisi. Mereka lebih akrab dengan Harry Potter, Supeman, Batman. Untuk mendapatkan beladari pun, orang tua mereka menyerahkan belajar karate, judo, kempo. Sebab, kalau bersilat tidak ada level yang jelas. Tak ada sabuk coklat atau hitam.

Memang kini zaman sudah berubah. Kalau pun ada si Muntu, sepertinya sudah tidak mungkin tangguk di tangan akan penuh. Kepada siapa mau meminta? Orang-orang hanya peduli bila ada keuntungan yang diharap. Seperti untuk kampanye dia mau mengeluarkan duit berkarung-karung. Tapi untuk menggairahkan nagari, seperti memperbaiki tali bandar, siapa yang mau tanpa pamrih?

Si Muntu kini hanya tinggal kenangan. Daun kerisik tak lagi menjadi sesuatu yang diperlukan. Pemuda masa sekarang, lebih senang mengojek motor ketimbang bertanam pisang. Pisang berbuah setelah seratus hari. Sementara ojek motor bisa mendatangkan uang setiap hari.

Rasa malu dari kalangan muda juga sudah berkurang. Dahulu pemuda takut terlihat wajah ketika meminta. Mereka memainkan si Muntu, sehingga orang meresa tidak terpaksa merogoh kocek. Kini minta uang tidak lagi dengan si Muntu. Cukup dengan menimbun sebuah lubang kecil di jalan, kemudian tadahkan kotak supermi kepada pengemudi di ruas jalan sempit. Kepada yang bermurah hati dia ucapkan terimaksih, terhadap yang tidak memberi pelototkan mata.

Mungkin ini pengaruh negatif dari zaman kemajuan. Banyak hal yang membuat kalangan muda terangsang melanggar norma. Mereka maunya serba cepat. Hidup kaya selalu jadi impian. Kerja keras jarang yang mau. Berfikir hanya satu bagaimana cara mendapatkan uang dengan mudah dan cepat kaya, supaya bisa pula berfoya-foya seperti anak muda dalam film.

Tanpa terasa sejak teknologi semakin canggih, banyak nilai-nilai adat yang berubah. Salah satunya si Muntu gaya lama tak laku lagi. Yang tumbuh justru si Muntu gaya baru. Inilah, mungkin, salah satu penyebab banyaknya anak jalanan di perapatan kota. Rupanya ada si Muntu terima setoran. ***

Oleh : A.S Patimarajo

Pengamat Budya Minangkabau

Comments are closed.

Mission News Theme by Compete Themes.