Press "Enter" to skip to content

Sehari Bersama Dr. Aqua Dwipayana M.Kom

ALLAH TAK HANYA MENJANJIKAN PAHALA

Oleh : Santoso / Akung Bondhet / Wartawan Senior Di Madiun

Kata ‘’Silaturahim’’ bagi Dr. Aqua Dwipayana M.Kom, bukan hanya sebuah kata untuk bahan bukunya. Juga bukan hanya sekadar untuk bahan motivasi saja. Tapi ia juga menghayati sekaligus mengejawantahkannya dalam perbuatan. Sehari bersama dia, Santoso — senornya di Jawa Pos dulu — menulis kesana-kesannya, termasuk latar belakang mengapa dia tak segan mengeluarkan dana bermiliar-miliar rupiah untuk umroh gratis.

***

Warta Publika.Com – Minggu sore (13/6/2021) saya mendapat telepon dari Mas Slamet Oerip Prihadi, bahwa dia sedang berada di Sragen. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya akan mampir ke rumah saya. ‘’Saya minta alamat yang jelas mas San, sekalian Google map ya,’’ kata Mas Slamet yang akan mampir sehabis salat isya.

Sekira jam 20.00 ketika saya sedang menulis di depan komputer di studio mini, tiba-tiba saya dengar ada orang yang bertanya ke cucu saya yang kebetulan sedang berada di teras, ‘’Apa benar ini rumah Pak Santoso.’’

BACA JUGA: ’’KOMUNIKASI ITU PENTING’’

Saya segera keluar, saya kaget ternyata yang di depan saya bukan mas Slamet,  tapi mas Aqua Dwipayana. Sudah lebih 20 tahun tak pernah bersua, tapi saya tahu dari buku yang langsung disodorkan ke saya. ‘’Ya Allah mas Aqua,’’ begitu teriak saya. Ini benar-benar kejutan!

Dr Aqua Dwipayana (kanan) dan Santoso Bondet (penulis, kiri). (FOTO: Cowas JP)

‘’Saya memang wanti-wanti ke Pak Slamet agar tidak bilang kalau saya yang akan datang,’’ katanya.

Saat itulah ia minta saya untuk mendampinginya ke Gedung Bhara Mahkota. Selama 5 jam saya mengikuti dan mencermati apa yang disampaikan ke para anggota Polresta Madiun. Saat itulah saya baru paham, mengapa Aqua mendapat predikat ‘’motivator nasional’’.

Bukan  karena sudah memotivasi hampir seluruh kota di Indonesia, namun dari pengamatan saya ia memang layak menyandang gelar itu.

Sebagai motivator yang handal, ia mampu menjaga ritme bicaranya. Ia tahu kapan harus bicara serius, kapan santai dan kapan bergurau hingga membuat suasana penuh gelak tawa.

Dengan demikian, materi komunikasi yang sebenarnya cukup berat, bisa dibawakan dengan cantik hingga gampang dicerna oleh audiensnya dengan baik.

Dalam ceramahnya ia juga melakukan komunikasi dua arah. Dengan melibatkan audiens. Itulah yang membedakan Aqua dengan penceramah lain. Ada penceramah yang lebih mengandalkan guyonan hingga materi pokoknya tak tersampaikan, bahkan ada yang terlalu serius, hingga membuat bosan. Dan Aqua memang pas dalam menjaga ritmenya.

BERJIWA SOSIAL

Jiwa sosialnya memang amat sangat tinggi. Melihat istri saya setiap hari jualan Nasi Kuning, ia pun langsung pesan nasi kotak. Semula pesan 200 kotak, namun karena sudah malam, istri saya khawatir kalau tidak bisa mendapatkan bahannya. Akhirnya disepakati 100 kotak untuk dibagikan ke anggota Polresta yang hadir dalam acara sharing dan motivasi di gedung Bhara Mahkota.

Gaya Aqua Dwipayana saat memberimotivasi

Membantu usaha teman memang selalu dilakukan. Saya yang selalu mengikuti gerak langkahnya yang diposting teman-teman di grup WA Cowas-JP, saya menjadi tahu begitulah cara Aqua dalam membantu usaha temannya.  Misalnya  teman yang punya usaha produksi rempeyek pun diborong. Bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk dibagikan. Dan kemarin giliran saya ,.. alhamdulillah.

Jadi bukan hanya mengeluarkan dana untuk umroh gratis saja, namun Aqua  juga siap membantu usaha kecil temannya.

Apa sebenarnya latar belakang yang ia lakukan selama ini??

Ketika orang lain sedang berlomba-lomba menumpuk kekayaan, Aqua justru tak segan merogoh koceknya begitu dalam. Memberangkatkan umroh gratis kepada 160 orang tentu bukan main-main. Bermiliar-miliar dana pribadi yang harus dikeluarkan..

Teman saya sekampus di Akademi Wartawan,  Hardini Irawati kepada saya bercerita, bahwa ia merupakan salah satu yang mendapat kesempatan diberangkatkan umroh gratis, ‘’Benar-benar gratis…tis…tis.’’ katanya.

Menanggapi pertanyaan saya tentang latar belakang semua ini, Aqua dengan merendah menyampaikan bahwa  semua itu sudah menjadi ‘’nawaitu-nya’’ saat mulai menulis buku Power of Silaturahim. ’’Itu memang niat saya sejak awal,’’ katanya.

Sedang dalam membantu temannya, ia menjawab lirih, ‘’Saya terlahir dari keluarga miskin, jadi sangat menghayati bagaimana perjuangan untuk bertahan hidup,’’ katanya.

Selain itu, ada sebuah keyakinan yang sangat mendasari. Bahwa Allah tak hanya menjanjikan pahala saja atas harta yang kita keluarkan secara ikhlas untuk membantu orang lain, tapi Allah juga menggantikannya saat kita membutuhkan.

Keyakinan bersifat religi yang ternyata klop dengan pengalaman empirik saya, sehingga saya bisa memahaminya.

‘’Apa yang saya keluarkan hari ini, ternyata saya mendapatkan lebih di hari kemudian,’’ katanya.

Termasuk juga berbagai undangan ceramah yang tak pernah sepi, meski di masa pandemi merupakan fakta tak terbantahkan. ‘’Jadi itulah kerja saya sehari-hari pak San,’’ kata motivator yang bertarif 30 juta per jam itu.

‘’Tapi untuk institusi tertentu saya malah tak mau dibayar. Bahkan transportasi dan akomodasi saya tanggung sendiri,’’ akunya.

Pewarta:
Editor: Slamet Oerip Prihadi
Sumber: CowasJP

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.