Press "Enter" to skip to content

Memasak Gulai Sinaruih, Tradisi Kurban dì Masjid Aufu Bil Uqud Koto Katik

Bermacam tardisi digelar pada Hari Raya Idul Adha, tidak hanya bersama memotong hewan kurban tapi ada juga makan bersama di mushala atau mesjid yang melaksanakan kurban.

Satu diantaranya Di kelurahan Koto Katik Padang Panjang Timur, usai pembagian daging kurban kepada masyarakat yang menerima, warga setempat tak luput ikut gotong royong memasak , yang nantinya juga dibagikan bersama kepada masyarakat.

Penyemblihan hewan kurban yang terdiri dari 16 ekor sapi dan tiga ekor kambing diselesaikan jelang adzan Dzuhur oleh panita di Masjid Aufu Bil Uqud, Kelurahan Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang Timur (PPT), Rabu (21/7).

Selepas Shalat Dzuhur, ribuan bungkus daging ini dibagikan kepada warga sekitar, seiring dengan dimulainya memasak Gulai Sinaruih ( seperti Kalio Daging- red) namun tidak menggunakan santan. Masyarakat setempat kerap menyebutnya dengan Samba Surau.

Gulai Sinaruih dari bahan daging kurban ini, dimasak dengan porsi yang lumayan besar. Menggunakan 12 kuali besar yang menampung kurang lebih 15 hingga 20 kg daging per kualinya.

Prosesnya sangat tradisional sekali, karena dimasak menggunakan kayu. Uniknya dilakoni oleh kaum laki-laki. Sementara kaum ibu hanya mempersiapkan bumbu-bumbu saja, serta membungkuskan nasi putih untuk dibawa ke masjid. Biasanya mereka melebihkan bungkusan untuk yang bergoro di masjid.

Siang itu menjelang Ashar, matahari hari cukup terik, namun panitia dari para pemuda dan bapak-bapak tampak tak menghiraukannya. Mereka bersemangat, bergantian mengaduk masakan menggunakan sebilah bambu panjang yang cukup tebal.

Terdengar kelakar di antara mereka. Asap yang mengepul ke udara membuat mata sedikit perih, tapi hal itu sepertinya tidak jadi masalah.

Sesudah Ashar, Gulai Sinaruih menghembuskan aroma gurih, pertanda masakan khas setiap Hari Raya Kurban di Koto Katik ini sudah matang. Potongan rebung kemudian dimasukkan ke dalam adonan. Lalu, setelah beberapa kali diaduk, bara api mulai diperkecil dan ditutupi daun pisang supaya bumbu meresap.

Selang beberapa saat, barulah Gulai Sinaruih dibagikan kepada warga yang datang membawa nasi putih. Ada yang menyantapnya di masjid, ada juga yang membawa pulang. Suasana bahagia masyarakat terasa saat itu.

Ketua Pengurus Masjid, Benni Chandra mengatakan, memasak lauk Gulai Sinaruih, dari daging kurban yang dinamai Samba Surau ini sudah menjadi tradisi sejak Masjid Aufu bil Uqud didirikan tahun 1927 silam.

Diinisiasi para pendirinya yaitu Syeikh Jamil Jaho, Ustadz Muhammad Idris, dan Ustadz Nurdin Labai Majolelo. “Hal ini sebagai wujud rasa syukur di Hari Raya Idul Adha dan kebersamaan antara masyarakat di Kelurahan Koto Katik,” ungkapnya.

Dikatakan Benni, dari 16 sapi yang disembelih hari itu, lima di antaranya dimasak di masjid untuk dinikmati bersama-sama sore harinya. Begitupun dengan 3 ekor kambing, untuk gulai cincang, pada santapan siang. “Siangnya masyarakat menikmati Gulai Kambing, sorenya menikmati Gulai Sinaruih berbahan daging sapi,” sebutnya.

Ketua DPRD Mardiansyah bersama masyarakat Koto Katik

Sementara itu, Ketua DPRD Mardiansyah, A.Md yang turut hadir, mengapresiasi tradisi yang telah lama berlangsung di Masjid Aufu Bil Uqud ini.

“Kegiatan ini menujukkan kebersamaan, rasa kekeluargaan dan gotong royong, tradisi ini harus tetap dipertahankan. Kalau bisa juga ada di kelurahan lain,” pungkasnya. (*)

Penulis : Harris Suyata

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.