Press "Enter" to skip to content
Erwin Kustiman

Komunikasi Kunci Utama Menghadapi Krisis Pandemi Covid-19

Oleh : Erwin Kustiman

TEPAT benar apa yang disampaikan oleh Dr Aqua Dwipayana, pakar Komunikasi yang juga lulusan S3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam tulisannya yang dikirim dan dishare ke berbagai kalangan — sebagaimana kerap dilakukannya selama ini – Pak Aqua menegaskan, “Semoga juru bicara Presiden JOKO WIDODO, Bapak FADJROEL RACHMAN lain kali lebih hati-hati membuat pernyataan pers. Mengenai mudik ini sangat sensitif dan banyak pihak sudah memberikan imbauan untuk tidak mudik. Karena pernyataannya salah sehingga Mensesneg Bapak PRATIKNO harus merevisi pernyataannya. Dalam situasi saat ini KOMUNIKASI harus menjadi perhatian utama semua pihak terkait. Salah memberikan informasi, dampaknya bisa fatal. Itu bukti nyata bahwa KOMUNIKASI itu sangat vital. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kesalahan informasi yang disampaikan Pak FADJROEL RACHMAN. Aamiin ya robbal aalamiin.”

Sebagai sosok yang sangat santun dan tidak pernah mau menyinggung orang lain, apa yang ditulis oleh motivator kawakan ini, sejatinya benar-benar bernuansa keprihatinan yang amat sangat. Hanya saja, sebagaimana perangai dan pembawaan beliau yang santun, gaya bahasa yang disampaikan tetap dengan cara yang eufimistik (mengkritik secara halus) tanpa kehilangan ketegasan sikap beliau. Pak Aqua pun tak pernah kehilangan rasa respek dan penghormatannya pada siapapun dengan senantiasa menulis nama siapapun dengan huruf kapital. Beliau pun kalau menyapa nama saya secara tertulis selalu menggunakan huruf kapital.

Apa yang terefleksikan pada ¹kalimat beliau adalah keprihatinan dan perasaan menyesalkan atas sikap juru bicara Presiden Joko Widodo, yakni Pak Fadjroel Rachman. Memang, sangat disesalkan, sosok seperti Pak Fadjroel yang sebenarnya berasal dari kalangan aktivis dan pasti paham benar dengan apa yang disebut “koordinasi”, kok bisa melakukan tindakan yang kontraproduktif semacam itu.

Bung Fadjroel Rachman, yang saat saya menjadi wartawan sering mewawancarai beliau sebagai aktivis politik, adalah sosok yang cerdas. Seharusnya beliau faham bahwa posisinya saat ini adalah “etalase” kepala negara, lembaga yang sangat sentral dan seharusnya menunjukkan kewibawaan dan ketegasan, dalam situasi sekrisis apapun. Persoalan mudik juga memiliki kompleksitas yang tinggi, sehingga sepatutnyalah pembahasan masalah ini dilakukan sangat matang. Tidak dengan terburu-buru menyampaikannya kepada publik.

Dua Kali “Keseleo Lidah” Terkait Covid-19 Menuai Kontroversi dan Gugatan Keras
Padahal, belum lama berselang, tindakan “keseleo lidah” serupa juga sempat dilontarkan juru bicara pemerintah untuk penanganan kasus virus Corona atau COVID-19 Achmad Yurianto. Pernyataannya agar si kaya dan si miskin saling bekerja sama agar tidak menularkan penyakit, segera menuai kontroversi. Amat disayangkan, dalam situasi krisis, ucapan yang sangat berbau “diskriminasi” itu bisa saja dipersepsi liar dan menimbulkan dampak sosial yang tidak bisa diduga.

Kasus “slip of tongue” Achmad Yurianto bukan itu saja. Dalam video Deddy Corbuzier yang diunggah pada 17 Maret 2020, Yuri mengatakan bahwa rumah sakit tidak lagi memiliki fungsi sosial, kini rumah sakit sudah seperti bisnis hotel, namun roomboy-nya adalah perawat, juga telah menuai gugatan keras.

Apa yang disampaikan Achmad Yurianto memang bisa saja bersumber pada kenyataan yang dihadapi masyarakat. Namun, mengucapkannya di tengah situasi serba krisis dan darurat yang membutuhkan sinergi dan kebersamaan, kalimat kontroversialnya itu bisa saja menimbulkan dampak yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Benar sekali pernyataan Pak Aqua Dwipayana. Masalahnya ada pada komunikasi. Dalam situasi saat ini, komunikasi harus mendapat perhatian semua pihak terkait.

Apalagi, mereka yang menyandang peran dan tanggung jawab sebagai juru bicara. Keterampilan mengemas pesan – apalagi bagi lembaga pemerintah – adalah syarat mutlak (conditio sine quonon) bagi para juru bicara. Bukan sekadar terampil menguntai kata.

Pemahaman masalah, kematangan personal, emosi yang terjaga, dan terutama empati yang kuat pada psikologi publik adalah prasayarat mendasar seorang juru bicara pemerintah. Dalam hal ini, juga tepat benar jika Pak Aqua Dwipayana menegaskan bidang apapun membutuhkan sosok yang mumpuni di bidangnya. “Jika sesuatu diserahkan bukan kepada ahlinya, maka hasil buruk pun sudah pasti di depan mata” begitu barangkali kalau harus ditegaskan.

Apalagi dalam era media baru sekarang sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi komunikasi dan infromasi. Situasi krisis (sebuah lembaga, privat atau pemerintah) bakal terasa lebih kompleks dampaknya. Arus informasi, ketidakjelasan, dan gosip, tengah meningkat. Para praktisi, yakni mereka yang juga berposisi sebagai juru bicara itu, harus juga mau terlibat dalam pemanfaatan media baru dan media sosial dalam rencana komunikasi krisis mereka.

Sebelum melakukan itu, tentu saja mereka harus mengubah cara pandang mereka terhadap media sosial dan media baru. Dan, cara pandang baru itu mau tidak mau harus melibatkan para pakar Komunikasi, karena memang paradigma dan cara-cara berkomunikasi dalam langgam media baru itu sama sekali berbeda dengan langgam komunikasi yang selama ini kita pelajari.

Ada Baiknya Menyampaikan Permohonan Maaf untuk Membangkitkan Kembali Simpati Eksternal
Dalam papernya “Ongoing Crisis Communication – Planning, Managing and Responding (2007)”, TW Coombs menulis bahwa komunikasi krisis dapat digambarkan sebagai komunikasi yang digunakan oleh organisasi sebelum, selama, dan setelah krisis.

Ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan pesan yang benar dengan baik selama krisis dapat berakibat fatal bagi sebuah organisasi. Oleh karena itu, organisasi harus selalu berusaha untuk mengelola pesan mereka, kemudian mengendalikan pesan serta cara berkomunikasi sebagai bagian dari upaya mengendalikan krisis.

Kata Coombs pula, sangat penting bagi organisasi untuk mendengarkan suara publik dalam strategi komunikasi krisis mereka. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan dan keterandalan di mata masyarakat. “Ketika masyarakat mempercayai organisasi sebelum krisis, mereka akan lebih percaya pada kemampuannya untuk menyelesaikan masalah tanpa komplikasi besar. Tujuan komunikasi krisis bukan hanya untuk menenangkan dam keprihatinan publik. Hal ini sekaligus juga untuk memberikan informasi dan keputusan yang dibuat selama krisis kepada publik, sehingga masyarakat pun memiliki kesadaran dan pandangan rasional kepada organisasi,” tulis Coombs.

Krisis yang tidak dikelola dengan baik, penyampaian pesan yang tidak diorganisasi secara benar akan membuat citra lembaga atau organisasi rusak. Situasi krisis terjadi tidak dapat diprediksi kapan datangnya, namun ketika krisis tersebut melanda maka pihak yang menjadi korban atau mengalami dampak yang signifikan haruslah yang menjadi prioritas utama. Di sinilah kepekaan, solidaritas, dan kepedulian sosial bagi mayoritas masyarakat, menjadi keharusan bagi seorang juru bicara.

Juga haruslah diingat, komunikasi di saat krisis (crisis communication) bukan semata tanggung jawab satu fungsi atau bagian saja dalam struktur organisasi atau lembaga. Apalagi entitas formal semacam pemerintahan sebuah negara.

Fungsi-fungsi lain dalam organisasi juga memiliki peran dan tanggung jawab serupa. Di sinilah urgensi yang disebut kerja sama, koordinasi, saling membantu, bahu-membahu. Bukan sebaliknya saling menyalahkan dan berbeda “koor” akibat saling lempar tanggung jawab.

Apa yang disampaikan Bapak Dr Aqua Dwipayana adalah bagian dari suara publik yang tentu harus diterima dengan baik dan penuh kesadaran. Pernyataan yang disampaikan beliau adalah sebuah “gentle warning” atau peringatan halus bahwa memang harus segera ada perbaikan dari cara dan gaya pemerintah berkomunikasi. Utamanya dalam situasi krisis ini.

Ada baiknya pihak yang secara disengaja atau tidak, disadari atau tidak, mau menyampaikan permohonan maaf sebagian bagian dari upaya kontemplatif sekaligus konsolidasi internal serta membangkitkan kembali simpati secara eksternal. Bukankah menyadari kesalahan jauh lebih baik ketimbang jiwa angkuh tidak mau menyadari kekeliruan.

Kini saatnya kita saling bergandeng tangan, bersinergi, dan menujukkan spirit gotong royong sebagai jiwa bangsa. Hanya dengan itu semua kita bisa kuat sebagai bangsa dalam menghadapi krisis demi krisis. Termasuk menuntaskan pandemi Covid-19 ini.*

Penulis Wakil Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat Bandung.

Comments are closed.

Mission News Theme by Compete Themes.