Press "Enter" to skip to content

Hasanah Nasution Garap Pertunjukan Teater Tanpa Dialog

Pengharapan Dialog Tanpa Bicara, Hasanah Nasution ( photo : Ist)

Padang Panjang, wartapublika.com- Solehah Hasanah Nasution, Mahasiswa Penciptaan Teater Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia Padang Panjang dalam mata kuliah Studio 1 bertajuk “Teater Tanpa Dialog” (12/1/2023) bertempat Studio Jurusan Seni Teater ISI Padang Panjang.

Dr. Yusril, S.S., M.Sn selaku dosen pengampu mengatakan, teater yang sebenarnya tidak dapat dilakukan mendadak karena teater butuh proses panjang. Pertunjukan ini baru semacam sketsa dalam lukisan, mungkin saja akan berkembang lebih jauh karena masih punya waktu.

“Ini baru studio 1, 2 dan 3 kedepan akan ada eksperimen sedangkan studio 3 tugas akhir. Di studio 1 ini akan menjadi pengalaman yang dapat dikembangkan pada proses selanjutnya,” paparnya.

Bersama Dosen Pengampu Yusril dan Sulaiman Juned ( photo : Ist)

Yusril menambahkan, teater tidak bicara baik buruk. Namun sebuah pertunjukan pasti memiliki nilai dan amanat serta manfaat, dari cerita yang ditampilkan tadi ada manfaat yang dapat diambil contohnya keluarga itu penting, narkoba itu membuat orang kesepian.

” Bagi saya tidak ada teater yang jelek dan teater yang baik, setiap pertunjukan pasti memiliki ciri khas dan estetika masing-masing,” tambah sutradara Indonesia ini.

Solehah Hasanah Nasution sebagai sutradara dan penulis naskah mengatakan, teater Tanpa Dialog terinspirasi dari cerita teman teman saya yang pernah terjebak dalam dunia gelap, dan naskah ini ingin dipentaskan tour Komunitas Seni Kuflet ke pulau Jawa.

” Sementara pesan yang ingin disampaikan dalam naskah ini perihal anak-anak yang terjebak dalam dunia gelap yang sebenarnya terpaksa melakukan itu karena tuntutan orang disekitar mereka dan acap kali disebut sampah masyarakat sebenarnya mereka hanya butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya,” tuturnya yang juga salah seorang sutradara perempuan di komunitas Seni Kuflet Padang Panjang.

Fajar Mulia Jambak aktor dalam pertunjukan tersebut mengatakan, sebagai aktor saya sangat senang memerankan tokoh dalam naskah ini, dalam waktu yang singkat dan lokasi yang selalu berpindah-pindah sedikit mengganggu emosi, mungkin butuh waktu lagi untuk latihan dan penyesuaian dengan panggung.

” Saya agak terganggu dengan pencahayaan lampu dan membuat bingung, harus bagaimana bergerak sesuai arahan lampu. Pertunjukan ini dapat menjadi pembelajaran moral bagi masyarakat,” tuturnya.

Akram hakim sebagai penonton mengatakan, cerita yang ditampilkan sangat menarik karena mengangkat kisah anak-anak yang bermasalah. Anak yang dianggap nakal sebagai pemakai narkoba tapi dalam ceritanya mereka tidak salah justru yang salah adalah orang sekitar serta orang tuanya.

“Jika dilihat dari segi kualitas aktornya sudah pas dalam pemerannya masing-masing sehingga penonton terkesima dan memperhatikan pertunjukan sampai akhir, cara aktor menaikan dan menurunkan emosi penonton sangat terasa,” ucapnya. (*)
Penulis : Fazha.
Editor : Adek.