Press "Enter" to skip to content

Fellowship Jurnalisme Pendidikan : Ini Kunci Jadi Wartawan Profesional.

Dr Aqua Dwipayana (kiri) Sharing Komunikasi dan Motivasi Fellowship Jurnalisme pendidikan, dengan moderator Nurcholis MA Basyari. dok

SUMATERA BARAT –¬†Wartawan profesional pasar soal pentingnya merawat jejaring mereka demi profesionalitas kerja jurnalistik ini. Bagaimana cara jitu merawat jejaring informasi itu sehingga bisa menjadi wartawan profesional?

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana berbagi pengalaman seputar hal itu, dalam sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Batch IV yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Sabtu (19/3/2022).

Menurut pria yang juga mantan wartawan di era 1980-an ini ada filosofi yang kuat dalam membangun hubungan sosial. ”Semua orang adalah guru. Sedikit banyaknya pasti akan memberikan ilmu dan manfaat buat orang lain itu,” tutur Aqua, seperti dilansir dari tugumalang.id

Dari pijakan filosofis itu, lanjut dia, alangkah baik jika manfaat itu terus bertumbuh. Salah satunya adalah dengan silaturahmi. Silaturahmi bukan hanya soalan ikatan manusia, tapi juga bermanfaat bagi seorang wartawan.

Manfaat itu sudah dirasakan pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara pada Januari 1970 ini. Misalnya, Dr Aqua seringkali mendapatkan berita ekslusif karena silaturahmi yang sering tidak disengaja.

Berita ekslusif, kata Aqua, yang berbeda dari media lainnya ini lahir karena faktor kepercayaan (trust) dari narasumber kepada wartawan. Faktor trust ini didapatnya dari silaturahmi yang tak kenal henti dan tanpa kepentingan apapun.

”Saya sering menyapa, untuk membangun hubungan baik. Meski tidak dalam waktu wawancara, saya sering menyapa nara sumber, berkunjung ke rumah mereka. Bahkan sampai saat ini saya terus menjalin silaturahmi dengan narsum saya dulu,” kisahnya.

Dengan begitu, jejaring yang luas artinya juga bisa menjadi peluang baik dalam iklim dunia media yang kian kompetitif. Kendati begitu, silaturahmi tetap harus didasari dengan rasa tanpa pamrih. Sesuai pengalaman Dr Aqua, silaturahmi harus didasari dengan komitmen peduli, rendah hati dan utamanya saling mendoakan.

”Silaturahmi ya silaturahmi, jangan dicampur dengan kepentingan. Jangan memikkan apa yang akan kita dapat dari situ, tapi apa yang bisa kita berikan kepada seseorang,” kata penulis buku super best seller Trilogi The Power of Silaturahim tersebut.

Aqua yang mengambil Doktor komunikasi di Fikom Universitas Padjadjaran mengatakan, menjadi seorang jurnalis memang bukan hal yang mudah. Sehari-hari, wartawan sudah dituntut untuk menyajikan berita sesuai fakta dan data yang valid.

”Itu sudah jadi semacam prinsip. Rintangan pasti selalu ada. Namun tidak dengan silaturahmi harus tetap terjalin. Meski saya juga pernah hampir diancam narasumber, tapi saya tetap rendah hati karena kerja ini saya niatkan untuk ibadah,” tuturnya.

”Profesi wartawan itu sangat mulia karena mereka memberikan nilai-nilai positif. Sebab itu, niatkan menjalani profesi ini untuk menebar kebaikan dan kebajikan kepada siapapun. Jadilah jurnalis yang sukses sebagai jurnalis masa depan,” pesannya.

Perlu diketahui, FJP diinisiasi oleh PT Paragon Technology and Innovation berkolaborasi dengan GWPP. FJP yang akan berlangsung hingga Mei 2022 secara virtual melalui Zoom ini, akan mencakup aspek pelatihan, praktik, dan pendampingan.

Ada lima mentor kapabel yang akan mendampingi dalam program yang berlangsung hingga Mei 2022 mendatang ini yakni Nurcholis MA Basyari, M Nasir, Haryo Prasetyo, Frans Surdiasis, dan Tri Juli Sukaryana.

Dalam FJP Batch IV ini dipilih 15 peserta jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya Wartawan tugumalang.id, M Ulul Azmy.(*)