Press "Enter" to skip to content

Dr Aqua Dwipayana: Tiga Kelemahan Pegawai Garda Depan Termasuk di Perbankan

PADANG—Para pegawai yang bertugas di garda depan atau “frontliner” di berbagai perusahaan termasuk di perbankan umumnya memiliki tiga kelemahan. Hal itu harus menjadi perhatian seluruh pimpinan agar tidak kalah bersaing dengan kompetitornya.

“Tiga kelemahan itu terjadi karena mereka yang bertugas di bagian depan terjebak rutinitas, sehingga sering bekerja tanpa roh. Jadi aktivitasnya seperti robot yang setiap hari rutin melayani konsumen,” tegas Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana pada Sharing Komunikasi dan Motivasi dengan tajuk “Strategi Komunikasi Bisnis di Masa Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Sumatera Barat (Sumbar) di Padang, Sumbar, pada Selasa sore, 7 September 2021 lalu. Acara itu dipimpin Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar Wahyu Purnama Armyntos yang bertempat di kantornya.

Undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi tersebut diterima Dr Aqua secara mendadak pada Selasa pagi, 7 September 2021. Langsung Wahyu yang mengontak pria yang rendah hati itu.

Saat Dr Aqua sedang menunggu untuk ketemu Direktur Utama Bank Nagari Muhammad Irsyad di bank tersebut, tiba-tiba Wahyu telefon. Kemudian menanyakan jadwal motivator kondang tersebut pada hari itu.

“Pak Aqua sore ini apakah jadwalnya kosong? Saya mau mengundang bapak untuk Sharing Komunikasi dan Motivasi di acara Badan Musyarah Perbankan Daerah (BMPD) Sumbar,” ujar Wahyu.

Setelah melihat jadwalnya sore masih kosong, Dr Aqua menyatakan siap. Mulainya sekitar pukul 16.30 dan tempatnya di kantor Wahyu. Disepakati topiknya adalah “Strategi Komunikasi Bisnis di Era Pandemi Covid-19”.

Acara tersebut sekaligus perpisahan dengan dua anggota BMPD Sumbar. Mereka adalah Pemimpin Wilayah BRI Sumbar Wahju Hidajat yang pindah ke Yogyakarta dan Pemimpin Cabang Bank Syariah Indonesia (eks BRI Syariah) Heriyadi yang mutasi ke Jakarta sebagai Executive Business Officer. Keduanya sama-sama mendapatkan promosi dari manajemennya.

“Begitu tahu Pak Aqua sedang di Padang, langsung saya kontak bapak. Memanfaatkan keberadaan Pak Aqua di sini untuk Sharing Komunikasi dan Motivasi di acara BMPD Sumbar. Alhamdulillah bapak berkenan dan ada waktu luang,” ujar Wahyu yang berasal dari Payakumbuh, Sumbar.

Wahyu menugaskan Sekretaris BMPD Sumbar M Rezha Ali Khan untuk koordinasi dengan Dr Aqua. Menyiapkan berbagai hal teknis yang terkait dengan Sharing Komunikasi dan Motivasi tersebut.

*Menjadi Pelanggan Misterius*
Dr Aqua melanjutkan tiga kelemahan pegawai garda depan itu diketahuinya setelah menjadi pelanggan misterius yang biasa disebut “mystery shopper”. Melakukannya di berbagai perusahaan termasuk perbankankan yang lokasinya mulai dari Aceh sampai Papua.

Kelemahan pertama jelas pria yang tinggal di Bogor, Jawa Barat ini adalah lemah pengetahuan tentang perusahaan. Bahkan ada pegawai yang tidak tahu nama direksinya.

“Saya pernah punya pengalaman di salah satu bank besar di Indonesia. Ketika saya tanya kepada seorang karyawannya tentang nama pegawai di perusahaan itu, dia mengatakan tidak tahu. Bahkan dengan yakinnya menegaskan kepada saya bahwa nama tersebut tidak ada di perusahaan tempatnya bekerja. Padahal nama yang saya sebutkan adalah orang pertama yang menjabat direktur utama di bank itu,” ungkap Dr Aqua.

Kondisi ini menurutnya sangat memprihatinkan. Bagaimana mau mengajak banyak orang jadi nasabahnya kalau karyawannya saja terkesan tidak peduli dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Kondisi itu kata Dr Aqua bisa membuat calon nasabah menjadi tidak percaya. Padahal bisnis perbankan yang paling utama adalah kepercayaan.

Kelemahan kedua, tambahnya lemah pemahamannya mengenai produk-produk perusahaannya. Begitu banyaknya produk yang ditawarkan ke para nasabah sehingga pegawai garda depan sering tidak tahu.

Kondisinya ungkap Dr Aqua makin diperparah dengan lemahnya komunikasi internal di perusahaan itu. Atasan pegawai garda depan tersebut tidak intens mengkomunikasikan berbagai produk perusahaannya.

“Tentang ini saya pernah punya pengalaman menarik di salah satu bank milik pemerintah. Saya tahu dari berita ada produk yang baru diluncurkan direktur utama bank tersebut. Saat saya tanyakan kepada salah seorang karyawati yang bertugas di garda depan perusahaan itu, dia dengan yakin dan tegas mengatakan produk yang saya maksud tidak ada. Malah saya dianggap mengarang dan informasinya hoaks,” jelas Dr Aqua.

Karyawati itu malah mencecar Dr Aqua dengan berbagai pertanyaan terkait sumber informasi tentang produk tersebut. Bahkan mengingatkan agar hati-hati saat menyampaikan informasi.

“Besoknya saya melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi di bank itu. Karyawati tersebut hadir sebagai salah seorang peserta. Dia kaget saat melihat saya. Lebih terkejut lagi ketika saya tampilkan tentang produk yang saya tanyakan kepada dia sudah diluncurkan oleh direktur utamanya,” tutur pria yang menjadi nasabah di beberapa bank itu.

Ketiga, papar Dr Aqua adalah lemah tentang informasi plus minus produk kompetitor. Hal ini sering terjadi banyak bank.

“Produk setiap bank umumnya hampir sama. Bedanya hanya nama produk dan pelayanannya. Jadi persaingan yang utama adalah dalam memberikan layanan ke nasabah. Sehingga semua bank berlomba-lomba memperbaiki dan meningkat layanannya kepada semua konsumen,” ujar pria yang memutuskan pensiun dini di usia 35 tahun ini.

Nasabah yang cerdas ungkap Dr Aqua suka membanding-bandingkan layanan yang diberikan setiap bank termasuk berbagai fasilitas dan suku bunga baik simpanan maupun pinjaman. Mereka cukup sensitif terhadap hal ini.

Ketika berhadapan dengan pegawai garda depan, kata Dr aqua menceritakan pengalamannya, saat diberitahu bahwa layanan banknya tidak kompetitif dibandingkan kompetitornya, karyawan itu hanya menerima saja. Tidak bisa berkomentar apalagi berargumentasi karena tidak memiliki data.

“Padahal saya hanya menguji pegawai itu saja. Dia menerima semua yang saya sampaikan karena tidak punya data plus minus produk kompetitor. Hal seperti ini masih sering saya alami,” pria yang lahir dan hingga selesai SMA di Pematang Siantar, Sumatera Utara ini mengutarakan.

*Semangat Berusaha*
Dr Aqua menegaskan untuk meraih kesuksesan tidak ada jalan yang instan. Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini di bidang usaha apapun termasuk di sektor perbankan. Untuk itu, kita harus selau semangat berusaha dan menaklukkan semua hambatan dan rintangan.

“Untuk meraih kesuksesan tidak ada jalan yang instan, termasuk dalam aspek bisnis dan khususnya di sektor perbankan. Cobalah untuk tidak cuma menjadi orang yang sukses, tetapi berusahalah jadi orang yang bernilai, termasuk dalam menjalani profesi apapun. Ingat tak ada keberhasilan tanpa kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas,” ungkap pria yang menulis buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim ini.

Dr Aqua menegaskan bahwa untuk bisa sukses secara finansial, setiap orang harus menguasai empat konsep bisnis. Keempatnya adalah pemasukan, pengeluaran, liabilitas, dan aset.

“Keempat faktor ini yang menopang arus keuangan sebuah institusi yang kemudian kita sebut sebagai neraca atau laporan keuangan. Komponen dan unsur utama laporan keuangan dapat dianalogikan seperti blok bangunan yang tersusun rapi sampai menjadi sebah bangunan seutuhnya,” ungkap pria dengan jejaring pertemanan yang luas ini.

Pehobi silaturahim yang telah mengumrahkan lebih dari 150 orang dari hasil penjualan buku “super best seller” karyanya yang berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” itu lebih jauh mengatakan bahwa kunci keberhasilan profesional di bidang apapun termasuk perbankan adalah juga memahami kebutuhan pasar.

“Hal ini juga termasuk pengetahuan dan pemahaman tentang pesaing serta tentunya kemampuan mendorong kualitas pelayanan,” ujar Dr Aqua.

Dia melanjutkan kecerdasan membangun komunikasi menjadi salah satu langkah penting untuk menggapai keberhasilan dan kesuksesan dalam berbisnis dan menjadi profesional, termasuk bagi mereka yang bekerja di sektor perbankan yang langsung bersentuhan dengan aktivitas masyarakat. Diperlukan kecakapan berkomunikasi dalam menjalin relasi dengan banyak pihak.

Kecerdasan berkomunikasi yang menjadi salah satu syarat bagi kesuksesan karier maupun perjalanan bisnis seseorang, menurut Dr Aqua, terbagi dalam dua aspek. Keduanya secara konsisten harus berjalan dengan baik karena keterkaitannya erat sekali.

Pertama, secara internal, komunikasi yang cerdas itu menyangkut proses penyampaian pesan antar pegawai untuk kepentingan bisnis dan keberlangsungan pekerjaan melalui komunikasi vertikal dan horizontal di lingkup usaha.

Untuk mewujudkan komunikasi internal yang bak, lanjut pembicara laris tersebut, peran pemimpin di setiap organisasi sangat penting. Diharapkan secara konsisten mereka dapat menjadi role model bagi semua jajarannya.

Jika pemimpinnya dapat memberikan keteladanan, menurut Dr Aqua, seluruh anak buahnya akan mencontoh. Hal tersebut berpengaruh secara signifikan pada pekerjaan di perusahaan terutama untuk peningkatan kinerja.

Komunikasi internal yang paling krusial, terang Dr Aqua adalah antara atasan dan bawahan. Itu terjadi karena ada dua perbedaan mendasar yakni wawasan dan pengalaman.

Agar komunikasinya selalu efektif, anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi (ISKI) Pusat itu menyarankan setiap atasan mau dengan rendah hati “turun” untuk menyesuaikan komunikasi dengan bawahannya. Sehingga prosesnya lancar dan umpan balik dari seluruh jajarannya sesuai dengan yang diharapkan pimpinan.

Sedangkan kedua, lanjut Dr Aqua, dari aspek eksternal. Komunikasi yang cerdas itu menyangkut relasi antara pimpinan atau bawahan dengan khalayak di luar lingkup usaha.

Setiap pegawai yang berkomunikasi dengan pihak luar, tambah Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik ini, harus menyadari bahwa saat berinteraksi dengan berbagai pihak eksternal, siapa pun itu orangnya, mewakili perusahaan tempatnya bekerja. Terkait dengan itu maka perilaku dan tutur katanya harus diperhatikan.

Agar komunikasi eksternalnya bagus, Dr Aqua menyarankan perlu lebih dulu diwujudkan komunikasi internal yang efektif, lancar, dan baik. Hal tersebut saling berkaitan.

“Biasanya jika komunikasi di internal efektif dan lancar, komunikasi eksternalnya bagus. Hal tersebut terjadi karena berbagai hal yang dikomunikasikan ke luar bersumber dari antarbagian di perusahaan,” terang pembicara laris selama pandemi Covid-19 ini.

*Bahasa yang Baik*
Pria dengan jejaring pertemanan sangat luas itu lebih jauh mengungkapkan, membangun komunikasi efektif  dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik dan selalu mengedepankan etika dan kesantunan.

“Selain itu, kita juga harus dapat mempelajari konsep bahasa nonverbal sehingga dalam setiap proses komunikasi bisa menyampaikan dan menerima pesan komunikasi secara efektif,” ujar Dr Aqua.

Untuk mencapai efektivitas komunikasi, menurut Dr Aqua yang semakin padat jadwal kegiatannya di masa pandemi Covid-19 ini, efektivitas komunikasi dapat dijalankan dengan rumus REACH Plus A+C. Hal ini berlaku secara universal di mana saja berada.

Aspek pertama adalah sikap menghargai orang lain tanpa kecuali yang diwakili dengan kata “Respect”. Dr Aqua menegaskan di mana pun kita berada, jangan pernah menganggap remeh siapa pun. Hormati dan hargai semua orang.

“Salah satu contohnya saya selama di Sumbar ini, sangat respect sama sopir yang mengemudikan mobil saya yang biasa dipanggil Pak Un. Ketika saya di mobil, maka keselamatan dan “nyawa” saya dalam perjalanan ada di tangan sopir,” ungkap pria yang berasal dari Kota Padang, Sumbar ini.

Kedua adalah sikap empati (empathy). Salah satu contohnya semua atasan harus memperhatikan aktivitas para jajarannya. Jika mereka kelelahan setelah bertugas di lapangan, sampai di kantor jangan langsung “dibombardir” dengan berbagai pertanyaan dan teguran. Atasan harus dapat merasakan yang dirasakan jajarannya.

“Beri kesempatan mereka istirahat. Pesankan minuman dan makanan. Ajak ngobrol santai dengan topik yang ringan-ringan. Setelah suasananya nyaman baru membicarakan tugas mereka. Jangan lupa mengapresiasi anggota yang berprestasi,” tutur Dr Aqua.

Ketiga adalah “audible” atau dapat dipahami dan dimengerti. Semua yang disampaikan kepada orang lain pesannya dapat mereka terima dengan baik.

“Pesan yang kita sampaikan diupayakan secara maksimal dapat dipahami oleh penerima pesan. Ini sangat penting agar mereka tidak salah memahaminya sehingga umpan baliknya sesuai dengan yang diharapkan,” ungkap penulis buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim ini.

Aspek selanjutnya adalah “clarity”. Semua pesan yang disampaikan dengan kalimat terbuka yang sederhana dan jelas. Sehingga penerima pesan memahaminya.

“Semua pesan yang disampaikan harus jelas agar tidak terjadi multi interpretasi atau penafsiran yang berbeda dari penerima pesan. Jika itu terjadi dampaknya bisa fatal,” tegas Dr Aqua.

Terakhir adalah “humble” atau rendah hati. Jangan pernah tinggi hati dan sombong apalagi yang bekerja di sektor perbankan yang membutuhkan dukungan semua nasabah dan mitra kerja lainnya. Sikap negatif tersebut adalah awal dari keterpurukan kita sebagai manusia.

“Contohnya adalah jabatan seseorang. Itu ibarat kapas di ujung telunjuk. Begitu ditiup bisa langsung hilang. Sebagai manusia tidak ada yang perlu kita sombongkan. Semuanya milik Tuhan. Kita hanya dititipkan saja. Setiap saat yang kita miliki bisa diambil pemilikNYA dan kita diminta pertanggungjawabannya,” tutur Dr Aqua.

“REACH” menurut laki-laki yang hobi silaturahim ini tidak ada artinya jika tidak dilengkapi dengan huruf ‘A’ dan ‘C’ yakni Action dan Consistency atau Tindakan nyata dan cepat serta Konsistensi dalam pelaksanaannya. Jadi yang paling penting adalah implementasi pelaksanaannya terus-menerus.

Dr Aqua juga berpesan jadilah pegawai yang  komunikatif serta punya pandangan (mindset)  sebagai pemenang untuk mencapai target kerja menuju kesuksesan. Selain itu, agar baik kepada semua orang dan ramah dengan siapa pun sehingga mendapat predikat pegawai teladan di mata semua rekan kerjanya dan di hadapan Tuhan yang Maha Esa.

Terkait dengan pelayanan yang diberikan kepada semua nasabah, menurut mantan wartawan di banyak media itu, seluruh pegawai perlu melaksanakan 3K. Hal itu merupakan kunci sukses dalam melakukan semua aktivitas.

“’K’ yang pertama adalah Kredibilitas. Sebagai pegawai, harus selalu berusaha untuk menjadi orang yang dipercaya. Apalagi bekerjanya di sektor perbankan yang mengutamakan kepercayaan,” kata Dr Aqua menegaskan.

Sementara, “K” yang kedua adalah Komitmen. Sebagai bankir, menurut bapak dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana itu, semua pegawai harus selalu melaksanakan janji. Tepati, jangan sampai mengingkarinya. Sehingga para nasabah dan mitra selalu mempercayainya.

“Terakhir, ‘K’ yang ketiga adalah Konsisten. Lakukan semua aktivitas terutama dalam bekerja secara konsisten. Ini sangat penting karena erat kaitannya dengan kredibilitas sebagai bankir,” ucapnya.

*Aktif Bangun Jaringan*
Selain memperkuat kemampuan komunikasi, Dr Aqua menyarankan agar para bankir selalu aktif membangun jaringan untuk mencari mitra yang akan selalu mendukung bisnisnya.

“Jadilah orang yang baik kepada semua orang dan ramah dengan siapa pun agar mendapat kebaikan dan kesuksesan di manapun berada,” pesan motivator ulung ini.

Penulis buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim itu menegaskan bahwa membangun jejaring kerja (kemitraan) pada hakikatnya adalah sebuah proses menjalin komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan sumber daya atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan di dalamnya.

“Tentu membangun jejaring tidak bisa instan dan wajib dibina dalam rentang waktu yang lama. Hal ini harus merupakan keterpanggilan dan dilakukan secara alamiah dan berkesinambungan,” ungkap Dr Aqua.

Pria yang hobi membaca dan membantu banyak orang itu dalam paparannya juga memberikan tips  bagaimana membangun jejaring. Tidak hanya sekadar kiat dan strategi, tapi doktor Komunikasi itu berbagi pengalamannya sehingga sukses memperbanyak relasi baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Selama puluhan tahun mantan wartawan di berbagai media besar itu aktif melaksanakan silaturahim ke banyak orang tanpa melihat latar belakang orang yang ditemui. Hasilnya dahsyat dan luar biasa. Temannya banyak sekali, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri.

“Saya memang sudah meniatkan diri untuk 90 persen sisa hidup saya diorientasikan untuk bersilaturahim kemana saja dan kemudian juga memperbanyak aktivitas sosial,” kata pria yang senang membaca ini.

Terkait dengan dahsyatnya hasil silaturahim, Dr Aqua mencontohkan tentang buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim yang telah dicetak sebanyak 200 ribu eksemplar. Sebagian besar bukunya sudah terjual.

Buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”, “Humanisme Silaturahim Menembus Batas: Kisah Inspiratif Persahabatan Aqua Dwipayana-Ventje Suardana (Satu Kesamaan Yang Mampu Mengatasi Sejuta Perbedaan)” serta “Berkarya dan Peduli Sosial Gaya Generasi Milenial: Kisah Inspiratif Dua Bersaudara Alira-Savero Dwipayana Bergiat untuk Sesama”.

Dua buku yang terakhir yang berjudul “Humanisme Silaturahim Menembus Batas: Kisah Inspiratif Persahabatan Aqua Dwipayana-Ventje Suardana (Satu Kesamaan Yang Mampu Mengatasi Sejuta Perbedaan)” serta “Berkarya dan Peduli Sosial Gaya Generasi Milenial: Kisah Inspiratif Dua Bersaudara Alira-Savero Dwipayana Bergiat untuk Sesama” dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar. Dipasarkan sejak Januari 2021.

“Pemasarannya secara langsung ke pembeli. Tidak melalui toko buku dan media sosial. Hasilnya luar biasa. Sampai sekarang telah terjual sebanyak 32 ribu eksemplar. Padahal dalam situasi pandemi Covid-19 yang kondisinya sangat sulit,” jelas Dr Aqua.

Tidak hanya itu, lanjut pria yang sudah mengunjungi semua provinsi di Indonesia dan 34 negara ini, ada 15 perusahaan besar yang mendukung penerbitan kedua buku itu. Logo seluruh perusahaan ada di pembatas buku dan halaman dalam bagian belakang dua buku tersebut.

“Untuk mendapatkan dukungan dari semua perusahaan besar itu, saya tidak perlu pakai proposal dan meyakinkan pemilik serta pemimpinnya dengan bicara berbusa-busa. Cukup komunikasi lewat “Whatsapp” dan telefon. Mereka langsung setuju,” ungkap Dr Aqua sambil menunjukkan logo masing-masing perusahaan.

Hal itu bisa terjadi menurut mantan karyawan Semen Cibinong (sekarang Solusi Bangun Indonesia-red) ini bukan karena dirinya hebat. Namun yang utama disebabkan selama ini intens menjaga, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan silaturahim dengan ikhlas. Hal itu dilakukannya secara universal pada semua orang.

Setiap menjalin silaturahim, Dr Aqua melakukannya secara tulus. Niat, berpikir, dan tindakannya secara nyata adalah membantu semua orang yang ditemui. Sama sekali tidak berpikir mendapatkan sesuatu dari mereka.

Hal itu membuat setiap orang yang ditemuinya merasa nyaman, senang, dan betah berkomunikasi sama pria yang selalu berpenampilan sederhana tersebut. Komunikasinya sangat lancar dan sama sekali tidak ada hambatan.

“Saya sangat mensyukuri semua itu. Tuhan selalu memudahkan semua urusan saya termasuk selama di Kota Padang ini,” tutur Dr Aqua.

*Memperhatikan Waktu*
Di akhir Sharing Komunikasi dan Motivasinya Dr Aqua menyinggung tentang efektivitas dari sisi Ilmu Komunikasi melaksanakan rapat via zoom yang intens dilakukan selama pandemi Covid-19 oleh berbagai perusahaan termasuk di sektor perbankan. Konsultan Komunikasi itu menilai ada yang kebablasan sehingga jadi kontraproduktif.

“Selama pandemi Covid-19 sebagian besar perusahaan di dunia termasuk di Indonesia aktif melaksanakan rapat via zoom. Cuma karena terlalu intensif ada yang kebablasan sehingga jadi tidak efektif. Semua energi yang dikeluarkan selama pertemuan daring itu jadi sia-sia dan tidak bermanfaat,” ungkap Dr Aqua yang berusaha menghindari pertemuan via zoom.

Penulis banyak buku “super best seller” ini mengamati banyak pimpinan perusahaan termasuk institusi besar di negara ini yang melaksanakan rapat via zoom dengan jajarannya tanpa mengenal waktu. Akibatnya tidak mencapai sasaran dan jadi kontraproduktif.

Dalam pengamatannya ada yang melaksanakan rapat via zoom saat Subuh dan tengah malam. Bahkan tidak sedikit yang melakukannya pada hari libur dan itu intensitasnya sering sekali.

“Padahal setiap pegawai butuh rileks dan santai untuk berkumpul dengan keluarganya. Makanya ada hari libur pada Sabtu dan Minggu, di luar tanggal merah lainnya. Kenyataannya selama pandemi Covid-19 ada institusi yang tidak mengenal hari libur. Pimpinannya tidak peka terhadap hal ini,” tegas Dr Aqua yang dibenarkan oleh sebagian peserta.

Terkait dengan itu, mantan karyawan di sembilan perusahaan yang berbeda-beda ini mengimbau kepada semua yang hadir terutama level pimpinan agar memperhatikan waktu dan hari pelaksanaan rapat via zoom. Juga memenuhi hak-hak pribadi jajarannya termasuk buat kumpul bersama keluarga mereka pada hari libur.

Di samping itu Dr Aqua berpesan agar selama rapat via zoom, seluruh pimpinan memperhatikan setiap kalimat dari mulutnya. Harus santun dan beretika agar enak didengar dan tidak menyakiti jajarannya.

“Jika ada hal-hal yang krusial dan sensitif yang terkait dengan salah seorang atau beberapa orang peserta rapat, sebaiknya tidak disampaikan via zoom, sebab akan mempermalukan mereka dan menimbulkan luka batin yang mendalam. Lakukan komunikasi secara pribadi dari hati ke hati,” ujar Dr Aqua mengingatkan.

Tidak hanya itu, lanjut konsultan Komunikasi ini, para pimpinan ketika rapat via zoom jangan menyampaikan pesan yang berulang-ulang karena dapat menimbulkan kebosanan pada semua peserta pertemuan. Jadi harus bijak memilah dan memilih kalimat yang disampaikan.

“Sebagian pimpinan terkadang tidak memperhatikan hal ini. Dampak negatifnya para peserta jadi bosan dan menjadi bahan pembicaraan antarmereka di luar rapat. Kondisi ini kan tidak sehat,” ungkap Dr Aqua.

Sebagian peserta mendukung semua yang disampaikan Dr Aqua tentang rapat via zoom. Menurut mereka para atasan perlu melaksanakan semua saran yang disampaikan doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung itu agar pertemuan daringnya efektif dan bermanfaat.

Kepada Pemimpin Wilayah BRI Sumbar Wahju Hidajat yang pindah ke Yogyakarta dan Pemimpin Cabang Bank Syariah Indonesia (eks BRI Syariah) Heriyadi yang mutasi ke Jakarta, Dr Aqua mengucapkan selamat. Hikmahnya di tempat yang baru mereka berkumpul dengan keluarga masing-masing.

“Selamat kepada Pak Wahju  dan Pak Heriyadi yang sama-sama mendapatkan promosi. Semoga makin sukses di tempat yang baru. Insya Allah kita ketemu di Yogyakarta dan Jakarta,” ujar Dr Aqua.

*Kumpul Keluarga*
Sementara Kepala Perwakilan BI Sumbar Wahyu Purnama Armyntos di awal acara dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Wahju dan Heriyadi atas kebersamaannya selama bekerja di Sumbar. Banyak kenangan manis yang dirasakan meski waktunya hanya sebentar, hitungan bulan.

Bapak tiga putri itu mendoakan agar mereka berdua sukses di tempat baru yang lebih menantang. Apalagi selain mendapatkan promosi, juga kumpul dengan keluarga masing-masing.

“Saya yakin Pak Wahju sukses bertugas di BRI Wilayah Yogyakarta. Demikian juga Pak Heriyadi di kantor Bank Syariah Indonesia Pusat. Tolong tetap ingat dengan kami yang masih bertugas di Sumbar,” pesan Wahyu.

Pertemuan BMPD Sumbar kali ini menurut Wahyu berbeda dengan yang biasanya termasuk saat acara perpisahan. Pertemuan sekarang ini sengaja diisi dengan Sharing Komunikasi dan Motivasi dari Dr Aqua Dwipayana.

“Rezeki kita semua, saat ini Pak Aqua sedang di Padang. Ketika saya mengontak beliau mengundang untuk Sharing Komunikasi dan Motivasi, langsung dijawab berkenan dan bisa. Mari kita menyimak paparannya yang pasti sangat bermanfaat buat kita di masa pandemi Covid-19 ini,” ujar pejabat BI yang rendah hati itu.

Wahyu mengucapkan terima kasih atas kehadiran Dr Aqua. Dia yakin semua materi yang disampaikan berguna buat seluruh bankir yang hadir.

“Terima kasih banyak Pak Aqua yang telah berkenan hadir. Waktunya pas sekali yaitu bapak sedang pulang kampung ke Padang. Jadi langsung saya manfaatkan untuk memberikan Sharing Komunikasi dan Motivasi di sini,” pungkas Wahyu.

*Bagikan Buku*
Dalam pertemuan itu Wahyu memutuskan membagikan satu dari buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim. Judul buku karya Dr Aqua itu adalah “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukes Menjalin Komunikasi” kepada semua bankir yang hadir. Mereka level pimpinan di banknya masing-masing.

“Dari buku-buku karya Pak Aqua, saya tertarik salah satunya pada buku “super best seller” yang berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”. Saya yakin buku itu sangat bermanfaat buat seluruh pimpinan bank di Sumbar termasuk agar dapat mempertahankan kinerja masing-masing saat pandemi Covid-19 ini,” ujar Wahyu.

Buku “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” diluncurkan pada Jumat, 15 April 2016 lalu bersamaan dengan promosi Doktor Komunikasi Aqua  di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Bandung.

Awalnya ditulis dan diterbitkan dengan tujuan buat souvenir kegiatan tersebut.
Ternyata pesanan bukunya banyak sekali. Sampai sekarang sudah delapan kali cetak sebanyak 160 ribu eksemplar. Setiap cetak 20 ribu eksemplar. Buku itu masuk kategori “super best seller”.

Sebelum ujian terbuka itu, Dr Aqua sering menghadiri promosi doktor teman-temannya di berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia. Dari semua acara yang dihadirinya tidak ada satu pun souvenirnya yang menarik. Umumnya beli di toko dan dicap nama orang yang promosi doktor.

“Berdasarkan pengalaman itu, saya mau memberikan hadiah buku sebagai souvenir kepada seluruh tamu yang hadir. Saya ingin kesannya sesuatu banget, seperti jargon yang sering disampaikan penyanyi terkenal Syahrini,” jelas Dr Aqua.

Wartawan senior yang telah banyak menulis Nurcholis MA Basyari membantu sepenuhnya penulisan buku itu dari awal hingga tuntas.  Untuk penyelesaiannya mereka nyaris tidak tidur selama tiga hari dua malam di rumah Yogyakarta milik Dr Aqua.

Meski harus kerja keras untuk menuntaskan buku itu, namun Dr Aqua sangat bersyukur.  Apalagi semua tamunya yang mencapai ratusan orang termasuk para jenderal TNI dan Polri puas dan senang menerima buku tersebut saat diberikan pada promosi doktornya.

Cetakan pertama buku itu sebanyak 20 ribu eksemplar. Dengan cepat, hanya hitungan bulan seluruhnya habis terjual.  Seiring dengan itu penulis belasan buku yang sebagian “best seller” itu langsung meniatkan untuk menggunakan semua hasil penjualan bukunya buat berbagai kegiatan sosial terutama membiayai umrah banyak orang.

Dari buku “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” lahirlah kemudian Gerakan Umrah The Power of Silaturahim yang dibiayai dari hasil penjualan buku tersebut.
Ketua tetap rombongan umrahnya setiap tahun adalah Nurcholis.

“Mas Nurcholis yang juga asesor uji kompetensi wartawan tingkat nasional dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat sangat amanah, sehingga saya sekeluarga memberi kepercayaan kepada beliau sebagai ketua rombongan umrah The POS seumur hidup,” ungkap Dr Aqua.

Bergulir sejak 2017, total jamaah The POS yang dipimpin Nurcholis itu hingga kini mencapai 167 orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang sosial-budaya, ekonomi, dan pekerjaan/profesi.  Perinciannya POS I 2017 sebanyak 35 orang, POS II 2018 berjumlah 39 orang, POS III 2019 mencapai 50 orang, dan POS IV 2020 43 orang. (*/ad)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.