Press "Enter" to skip to content

Di Kepulauan Aru, Maluku Jalan Sunyi Pengabdian Rani

NAMANYA Chairani. Usianya masih 23 tahun. Terhitung belia, namun sudah kaya pengalaman dari keberaniannya memilih ladang pengabdian.

Setamat dari Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes RI di Siteba, Kota Padang pada 2020 lalu, Rani sudah menentukan pilihan. Tepatnya, mencoba peruntungan. Mengikuti program dari Kementerian Kesehatan bertajuk Nusantara Sehat; Membangun Kesehatan Indonesia dari Pinggiran.

Tidak mudah untuk bisa lulus program ini. Pertama harus punya mental. Karena harus siap ditempatkan di mana saja selama dua tahun kerja, dari Sabang ke Merauke, dari Miangas ke Pulau Rote, terutama untuk penempatan di wilayah pinggiran Nusantara. Jika tekad sudah bulat, maka ikuti proses seleksinya yang begitu ketat.

Peserta harus menjalani tiga tahap seleksi. Administrasi, psikotes dan wawancara. Dan Alhamdulillah, Rani melewatinya dengan mudah. Maka resmilah ia menjadi sanitarian Nusantara Sehat. Alumni SMAN 3 Padang Panjang tamatan 2017 ini, bergabung dalam tim yang berjumlah tujuh orang, yang enam di antaranya berasal dari timur Indonesia. Hanya Rani seorang yang berasal dari barat Indonesia.

Penempatannya? Pernah dengar nama Kepulauan Aru? Sudah pasti banyak yang tidak tahu. Ini adalah nama kabupaten di Provinsi Maluku. Terdiri dari 187 pulau, dan hanya 89 pulau yang berpenghuni.

Ibu kota kabupatennya bernama Dobo. Tapi, bukan di situ Rani ditugaskan. Lokasinya di Kecamatan Aru Tengah Selatan. Tepatnya di Desa Jambu Air. Jaraknya 8-12 jam dari Dobo. Tidak bisa ditempuh dengan bus, apalagi mobil pribadi. Hanya bisa dengan speedboat. Membelah lautan Arafuru, yang ombaknya sangat ganas di musim barat.

Dari Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, untuk bisa sampai ke Jambu Air, butuh waktu sehari. Sama halnya jika ke Papua, juga butuh waktu yang sama lamanya. Walau kalau dilihat dari peta, Kepulauan Aru ini lebih dekat ke Papua. Persisnya –jika ditarik garis lurus–, berada di bawah Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Di situlah Rani mengabdi sejak dinyatakan lulus Program Nusantara Sehat pada Juni 2021 lalu. Di desa berpenghuni 500 jiwa itu ia menjadi sanitarian di Puskesmas Jambu Air.

“Sanitarian itu menguasai ‘ilmu avatar’. Mengenai air, tanah, udara. Tentang limbah cair, vektor pembawa penyakit, pengolahan sampah, pemeriksaan jentik nyamuk, pemeriksaan inspeksi air bersih, pemeriksaan inspeksi tempat-tempat umum,” jelas Rani ke penulis via WhatsApp yang pesannya acap delay karena ia kehilangan sinyal.

Sebagai sanitarian, Rani bekerja melakukan inspeksi lingkungan. Mulai dari air bersih, air minum, jamban sehat, rumah sehat, sumur gali. Juga melakukan penyuluhan mengenai pengolahan sampah.

Kehidupan di Desa Jambu Air, jelas berbeda dengan kehidupan di Padang Panjang, kota kelahiran Rani. Sebelum memutuskan mengabdi untuk negeri, Rani yang tinggal bersama orang tuanya di RT 10 Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Padang Panjang Timur bisa merasakan begitu banyak kemudahan. Ada listrik, ada air PDAM. Kebutuhan makanan seperti buah dan sayur, mudah didapat. Segala sesuatunya serba dekat.

“Kalau di pulau ini, tidak ada listrik. Listrik hanya ada saat malam hari, menggunakan genset. Itupun kalau minyak ada. Kalau minyak habis, kita hanya gelap-gelapan. Kalau mau beli kebutuhan, harus ke kota kabupaten dulu. Ke Kota Dobo, yang perjalanannya dari desa membutuhkan waktu 8-12 jam itu. Harga kebutuhan pun memang serba mahal di sini,” ceritanya.

Belum lagi masalah jaringan. Sinyal HP di pulau ini, katanya, kadang ada, kadang tiada. “Pernah satu bulan tidak ada jaringan. Kita tidak tahu info apapun dari dunia luar,” ungkapnya.

Setahun sudah anak pertama dari pasangan Rizmal dan Murni itu menjalani “pengabdian sunyi” ini. Setahun lagi pengabdiannya akan berakhir. Dan, Rani mengaku sungguh merasa beruntung bisa ikut di program Nusantara Sehat.

“Mengikuti program Nusantara Sehat sangat saya rekomendasikan untuk seluruh kawan-kawan tenaga kesehatan. Apalagi yang belum pernah merasakan pengalaman bekerja. Seperti saya sendiri, program ini adalah awal bagi saya memulai masuk dunia kerja dan langsung mendapatkan daerah yang sangat terpencil. Itu pengalaman yang sangat berharga,” sebutnya.

Rani mengajak generasi muda Kota Padang Panjang, khususnya tenaga kesehatan, agar dapat merasakan pengabdian di program Nusantara Sehat. Untuk turut terlibat dalam membangun Indonesia dari pinggiran.

“Walaupun hanya dua tahun mengabdi, tapi dijamin mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dan takkan terlupakan,” tuturnya.

Jika ada yang berminat, sebutnya, bisa mengakses info Nusantara Sehat melalui link nusantarasehat.kemkes.go.id atau di akun media social @nusantarasehatindonesia dan @nusantara_sehat_official.

 

“Ayo ikutan. Di samping dapat pengalaman, ilmu dan skill kita sebagai tenaga kesehatan jadi bermanfaat untuk diterapkan di masyarakat,” ajaknya penuh semangat. (*)

Penulis : Maryulis Max

Sumber : Kominfo Padang Panjang.

%d blogger menyukai ini: