Oleh : Adek
Padang Panjang, wartapublika.com -Senyum Nurul Afifah terlihat sederhana ketika ia berdiri sambil memperlihatkan selembar surat bertuliskan “Selamat! Anda Lulus.” Namun di balik senyum itu, tersimpan cerita tentang perjuangan, doa orang tua, dan sebuah kesempatan besar untuk melanjutkan pendidikan.
Nurul Afifah merupakan alumni SMA Negeri 2 Padang Panjang Tahun 2026. Lahir di Padang Panjang , 14 September 2007. Ia adalah anak kedua dari pasangan Zulvely dan Lenny Silvya. Kehidupan keluarganya jauh dari kemewahan.
Sang ayah sehari-hari bekerja sebagai tukang harian, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga yang juga berjualan makanan ringan untuk membantu perekonomian keluarga.
Namun keterbatasan tidak membuat Nurul berhenti bermimpi.
Semasa sekolah, Nurul juga dikenal sebagai sosok yang aktif. Ia pernah menjadi anggota Paskibra Kota Padang Panjang. Selain itu, ia menekuni berbagai seni dan olahraga taekwondo, aktivitas yang mengajarkannya tentang disiplin, keberanian dan pantang menyerah.
Kini, perjuangan itu membawanya pada sebuah kabar yang membahagiakan. Nurul dinyatakan lulus dan diterima di Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi, YARSI Sumatera Barat. Lebih membahagiakan lagi, kesempatan tersebut disertai beasiswa hingga tamat serta uang saku dan kado ulang tahun ke -19.
Bagi Nurul, beasiswa itu bukan sekadar bantuan pendidikan. Di baliknya ada kesempatan untuk meringankan beban kedua orang tuanya sekaligus membuka jalan menuju cita-cita.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Terima kasih kepada pihak perguruan tinggi dan semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungan kepada saya dan keluarga,” ujar Nurul
Ia menyadari, perjalanan ke depan tidak akan selalu mudah. Karena itu, kesempatan yang telah diberikan akan dijadikan motivasi untuk belajar lebih giat dan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya.

Bagi kedua orang tuanya, keberhasilan Nurul tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Di tengah pekerjaan ayah sebagai tukang harian dan perjuangan ibu menjalankan rumah tangga sekaligus berjualan makanan ringan, kini sang anak mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
Perjalanan Nurul juga menjadi gambaran bahwa latar belakang sederhana tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bermimpi. Dari latihan Paskibra ia belajar kedisiplinan. Dari taekwondo ia belajar ketangguhan. Dari keluarga, ia belajar arti perjuangan.
Dan kini, dari selembar surat kelulusan itu, Nurul Afifah sedang membuka halaman baru dalam hidupnya menjemput masa depan yang lebih baik dengan doa, tekad dan rasa syukur.

























