Press "Enter" to skip to content

Bansos Dan Belanja Pulsa Masyarakat, Berperan Menahan Keterpurukan Ekonomi

Oleh : Indra Gusnady

PENDAHULUAN
Tulisan kecil ini mencoba melihat pengaruh penyaluran Bansos & Belanja Bidang kesehatan dalam rangka Penanggulangan Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Mengambil sampel 5 kota terkecil di Indonesia (Mojokerto, Sibolga, Magelang, Padang Panjang, Bukittinggi). Menggunakan Metode analisis deskriptif terhadap PDRB kelima kota pada tahun 2020 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

PEMBAHASAN
Dari analisis terhadap sampel 5 Kota di Indonesia (5 kota terkecil) melihat dampak dari pandemi covid-19 di daerah tahun 2020. Secara umum terjadi kontraksi (minus) pertumbuhan ekonomi rata-rata 2%.

Dari 17 lapangan usaha yg dikelompokkan dalam PDRB, secara umum mengalami kontraksi pertumbuhan.

Bahkan, pengeluaran pemerintah pun (APBD) yg dikelompokkan dalam administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib juga mengalami kontraksi. Artinya, APBD (lima kota) yg selama ini memberikan kontribusi besar terhadap bergeraknya lapangan usaha dan pertumbuhan ekonomi, tidak efektif memacu pertumbuhan ekonomi daerah di Tahun 2020.

Terdapat 2 lapangan usaha yang pertumbuhannya positif dan cukup tinggi yaitu: lapangan usaha informasi dan komunikasi; dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

Jenis produk dilapangan informasi dan komunikasi ini terutama adalah pembelian ‘pulsa’ untuk gadget (handphone) oleh masyarakat. Cukup meningkat selama pandemi di tahun 2020 digunakan untuk komunikasi dan ‘daring’ disaat Masyarakat Banyak berada dirumah dan kebijakan ‘work from home’. Pertumbuhan lapangan usaha ini 5 Kota, sbb; Padang Panjang 8,33%, Bukittinggi, 10,21%, Mojokerto 7,87%, Magelang 17,32 dan Sibolga 6,87%.

Sedangkan lapangan jasa kesehatan dan kegiatan sosial berkaitan dengan anggaran penanganan covid-19 terutama bidang kesehatan serta bantuan sosial kemasyarakat, baik berupa bantuan langsung maupun tidak langsung. Pertumbuhan lapangan usaha ini di tahun 2020, sbb: Padang Panjang 7,14%, Bukittinggi, 12,38%, Mojokerto 8,06%, Magelang 8,63 dan Sibolga -0,72.

Cukup tingginya pertumbuhan jasa kesehatan dan kegiatan sosial di Kota Bukittinggi dibandingkan 4 Kota yg lainnya, menunjukan bahwa penyaluran bansos kemasyarakat lebih efektif dan banyak (kuantitas) di Kota ini. Berkebalikan kondisinya di Kota Sibolga yang justru minus pertumbuhan, mengindikasikan pengeluarannya untuk bidang kesehatan dan bansos relatif sedikit dan tidak efektif di Kota ini selama pandemi covid-19 tahun 2020.

KESIMPULAN
Cukup tingginya pertumbuhan 2 lapangan usaha: informasi komunikasi; dan jasa kesehatan & kegiatan sosial di dalam perhitungan APBD, cukup mampu menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah, tidak semakin terpuruk (terkontraksi).

IMPLIKASI KEBIJAKAN
Penguatan perekonomian daerah, antara lain;
1. Subsidi pembelian kuota internet bagi masyarakat. Disamping tetap menguatkan lapangan usaha terkait juga mengurangi beban masyarakat
2. Keseimbangan Anggaran bidang kesehatan penanggulan covid-19 dengan bantuan sosial dan Subsidi pinjaman/permodalan bagi masyarakat.
3. Subsidi bunga pinjaman masyarakat yg sedang berjalan (kredit maupun konsumtif). Lebih meringankan beban masyarakat daripada re-scheduling pinjaman yg hanya akan menambah beban masyarakat kedepan. Berdampak kepada penguatan perbankan dan kontribusinya terhadap PDRB, sekaligus meringankan beban masyarakat selama masa pandemi.
4. Subsidi pinjaman tanpa bunga untuk modal kerja . Menggairahkan kembali lapangan usaha perdagangan, kuliner dan usahaindustri mikro, kecil yang terpuruk selama pandemi.
——-*
Padang Panjang, 19 Juni 2020
*Indra Gusnady

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.