Press "Enter" to skip to content

Ajik Pemilik 32 Outlet Krisna Tetap Semangat Saat Pandemi Covid-19

“Pak Aqua kenalkan ini Ajik, pemilik toko Krisna Oleh-Oleh Khas Bali. Beliau sukses mengembangkan bisnisnya hingga memiliki puluhan toko dan mempekerjakan ribuan karyawan,” ungkap Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kurnia Dewantara Kamis tadi malam (9/7/2020) mengenalkan saya ke Ajik. Orang yang dikenalkan membalas dengan senyuman ramah.

Setelah seharian melakukan kunjungan kerja ke berbagai kesatuan di bawah Kodam IX/Udayana, tadi malam Kurnia dan rombongan makan malam sambil istirahat di resto Bebek Tepi Sawah di Singaraja, Bali. Begitu tiba di resto itu, Kurnia disambut Ajik. Mereka duduk bersebelahan. Ajik di sebelah kanan pria asal Sukabumi, Jawa Barat itu. Sedangkan saya di sebelah kirinya.

Ajik Krisna ( Photo : Kumparan.com)

Selama ini saya dan banyak orang hanya mengenal nama besar Krisna, tanpa tahu siapa pemiliknya. Selain itu, sering didengungkan, “Jangan mengaku pernah ke Bali jika belum mampir ke Krisna”.

Nama Krisna sebagai toko yang menjual oleh-oleh khas Bali telah mendunia. Tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di mancanegara.

Datanglah ke salah satu tokonya, dari total 32 toko. Pengunjungnya tidak hanya warga negara Indonesia, tetapi banyak orang asing. Mereka asyik memilih aneka ragam oleh-oleh khas Bali.

“Di 32 toko Krisna ada sekitar 5.000 item barang. Seluruhnya dipasok oleh sekitar 450 suplier. Kami sudah lama bekerja sama dengan mereka dan hubungannya erat sekali,” jelas Ajik yang selalu bicara sambil tersenyum.

Dari Nama Anak Ketiga, Awalnya Satu Toko Berkembang Jadi 32 Outlet
Bapak empat anak tersebut mengutarakan bahwa Krisna beroperasi pada 2007. Merupakan nama anaknya yang ketiga. Beliau meyakini itu adalah nama yang terbaik dan terbukti benar.

Awalnya hanya mengoperasikan satu outlet. Merupakan pengembangan dari usaha konfeksi yang telah lama dirintisnya.

“Setiap tahun saya selalu menambah outlet. Dari yang awalnya satu toko sekarang berkembang jadi 32 outlet. Seiring dengan itu karyawan kami bertambah banyak,” ungkap Ajik yang pernah merasakan hidup miskin.

Banyak kekhasan Krisna. Selain barang-barang yang dijual relatif lengkap, juga operasionalnya selama 24 jam. Sehingga mereka yang berkunjung ke Bali setiap saat bisa datang ke sana.

Ajik yang nama lengkapnya Gusti Ngurah Anom menambahkan sebelum pandemi Covid-19 seluruh outletnya laris-manis. Omsetnya per bulan Rp 20 miliar sampai Rp 40 miliar. Beliau tidak pernah membayangkan usahanya maju pesat dan ‘meledak’.

Ke 32 outlet itu dilayani sekitar 2.500 orang. Mereka umumnya warga Bali. Ajik berusaha terus mengembangkan usahanya agar makin banyak mempekerjakan karyawan. Beliau ingin membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

Tidak PHK Karyawan, Ajik Mulai Rintis Usaha Menanam Kacang Tanah
Niat mulia Ajik terhambat karena pandemi Covid-19. Penghasilannya turun drastis. Seiring dengan itu karyawan yang aktif hanya 20 persen saja atau sekitar 500 orang.

“Meski begitu kepada semua karyawan tetap saya berikan sembako setiap bulannya. Mereka tidak ada yang di-PHK. Untuk kebutuhan mereka saya mengeluarkan rata sekitar Rp 3 miliar per bulan,” kata pemilik lima resto Bebek Tepi Sawah itu termasuk yang di Surabaya, Jawa Timur.

Pria asal Buleleng, Bali kelahiran 5 Maret 1971 tersebut selama pandemi Covid-19 mulai bertani kacang. Luas lahannya hektaran.

“TUHAN memberikan jalan saat pandemi Covid-19. Saya kini banyak bertani dengan menanam kacang tanah. Nanti akan ada Kacang Ajik yang dijual di seluruh outlet Krisna. Sekaligus saya mengajak masyarakat untuk jadi petani,” pungkas Ajik dengan penuh optimisme.

Semoga “tangan dingin” laki-laki yang sangat rendah hati itu dapat mensejahterakan masyarakat Bali. Aamiin ya robbal aalamiin…

Penulis : Aqua Dwipayana

Comments are closed.

Mission News Theme by Compete Themes.